Labels

Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Saturday, August 4, 2012

Murai batu muda hutan, rawatan tepat cegah sekarat




Penghobi burung ocehan khususnya murai batu kian banyak, terutama para pemula yang penasaran untuk memiliki gacoan murai batu. Berbagai upaya hunting burung dilakoni mulai dari mencari murai batu trotolan hasil penangkaran ataupun murai batu tangkapan hutan alias muda hutan (mh).
Justru yang paling digemari para pendatang baru adalah murai batu muda hutan, selain harga yang ditawarkan relatif lebih terjangkau juga dipercaya murai batu muda hutan memiliki isian variatif dan lebih handal di gantangan.
Memilih murai batu muda hutan tanpa pengetahuan pola rawatan yang tepat, justru akan berusiko kerugian yaitu murai batu jadi sekarat bahkan mati setelah dirawat selama satu atau dua minggu oleh para penghobi baru ini.
“Banyak penghobi baru yang salah dalam menangani murai batu bakalan, karena mereka maunya murai batu bakalan bisa cepat bunyi gacor, padahal ada beberapa langkah utama dalam merawat murai batu bakalan,” jelas Om Amir, pengepul murai batu muda hutan  di Surabaya.
Langkah apa saja yang harus dilakoni dalam merawat murai batu muda hutan? Pastikan murai batu bukan hasil pancingan, harus pula dipahami bahwa murai batu rentan stress dan metabolisme terganggu akibat proses penangkapan dari habitat asli dipindahkan ke dalam sangkar.
Langka awal berikan murai batu makanan yang paling digemari seperti kroto, ulat hongkong, ulat kandang, jangan langsung melatih murai batu muda hutan untuk makan voer pasalnya justru akan membuat murai batu enggan makan karena merasa ada benda asing dicepuk pakannya.
Pemberian kroto bisa ditaburkan didasar sangkar yang sebelumnya dasar sangkar dilapisi kertas koran untuk menjaga kebersihan, sedangkan pemberian ulat hongkong dan air minum tetap di dalam cepuk besar namun cukup diletakkan di dasar sangkar, hal ini untuk melatih murai batu muda hutan makan di dalam sangkar. Tahap ini biasanya berlangsung dua hingga tiga minggu. Apabila murai batu dalam tiga minggu bertahan hidup serta sehat maka langkah selanjutnya baru bisa dijalankan.
Hindari pemberian jangkrik untuk murai batu muda hutan karena metabolisme dan sistem pencernaan murai batu muda hutan belum stabil atau lancar. Pemberian jangkrik beresiko membuat murai batu muda hutan ‘kelolotan’ dan kesulitan mencerna di dalam pencernaan. Akibat hal itu murai batu akan kesulitan membuang feses akibatnya murai batu akan sakit dan sekarat.
Kedua, jangan langsung menjinakan murai batu selama masa recovery. Lakukan upayafull kerodong dan gantangkan di tempat tenang serta jauh dari keramain maupun kegaduhan, lebih baik jika didekatkan sumber air yang mengalir. Full kerodong berfungsi untuk menenangkan murai batu di dalam sangkar dan tidak menabrak ruji sangkar. Perawatan full kerodong ini dilakukan selama 1-2 bulan, tergantung mental murai batu. Apabila murai batu muda hutan sudah mulai belajar bunyi atau rajin ngeriwik, kerodong dibuka secara bertahap, sambil pantau kondisi murai batu.
Ketiga, hindari dulu mandi dan penjemuran. Mengingat kondisi murai batu muda hutan rentan sakit dan stress, untuk mandi berikan cepuk di dalam sangkar tanpa memaksa murai mau mandi. Jika kondisi murai batu fit, secara naluri akan mandi sendiri. Penjemuran cukup diangin-anginkan saja di tempat yang tenang.
Keempat, setelah kondisi murai batu  mulai pulih dan sehat, biasanya ditandai rajin ngeriwik selama dikerodong. Dalam tahap ini murai batu muda hutan mulai bisa dilatih untuk makan voor, namun jatah eksfood kroto dan ulat hongkong tetap disediakan. Setelah tahap pengevooran beres, murai batu bisa mulai dilatih makan eksfood jangkrik. Berikan 1e jangkrik ukuran tanggung dan bersihkan kaki-kakinya, porsi jumlah jangkrik bisa ditambahkan setelah dua minggu sambil melihat perkembangan kondisi murai batu.
Kelima, gantangkan murai batu di tempat yang aman dan nyaman serta perdengarkan natural therapy yang bisa download di omkicau.com. Jangan tergesa-gesa bahkan iseng untuk menggantangkan murai batu muda hutan jika kondisinya belum benar-benar sehat serta mentalnya mapan. (Endar Wardhana)

Tuesday, July 3, 2012

Ternak Murai Batu Di sangkar Gantung

JUGA BISA DILAKUKAN DI SANGKAR GANTUNG
COCOK UNTUK BREEDING DI PERKOTAAN

Semakin sempitnya lahan di perkotaan membuat kalangan calon penangkar, khususnya pemilik lahan terbatas, kesulitan bagaimana cara mengembangkan penangkaran burung yang akan di ternakkan. Terutama jenis burung murai batu.

Sebenarnya penangkar jenis burung murai batu dikandang sekecil apapun bisa. Dan itu sudah di buktikan oleh Alm. Abun seorang breeder murai batu sukses di Jakarta kala itu. Ratusan anakan yang di produksinya dari hasil breeding di kandang ukuran terbatas. Bahkan beberapa di antaranya dengan model sangkar gantung.


free image hosting

Kini penangkaran model sangkar gantung buat murai batu juga sudah semakin populer dan banyak berhasil di lakukan para penangkar. Iwan Fitriadi breeder di kawasan tangerang banten adalah salah satunya. Dia menggunakan kandang ini karena keterbatasan lahan yang tersedia. Dengan begitu, model penangkaran seperti ini simpel dan praktis, bisa menghemat tempat. Karena posisi sangkar bisa ditempatkan di manapun sesuai yang kita maui. Asalkan aman dari gangguan binatang tikus, kucing dan predator lainnya.

Yang dimaksud penangkar sangkar gantung disini tak lain sangkar burung biasa yang lazim di gunakan untuk murai batu. Bisa sangkar kotak ataupun model bulat, yang penting standar untuk sangkar murai batu, bisa berukuran kurang lebih 60cmx70cmx80cm. Sangkar bambu tersebut di tutup bagian kiri kanannya dengan kain atau penyekat dengan tujuan agar tidak saling melihat dengan pasang sejenisnya atau salah satu burung sejenis.  Itu bila yang di ternakkan lebih dari satu pasang.

Sebagai tempat kotak sarang, bagian belakangnya di lubangi dengan ukuran lebih besar dari badan burung. Di belakangnya di sediakan box cukup dari bahan kardus agar lebih enteng bila di tempelkan di badan sangkar. Di dalam box kardus ukuran 20cmx30cmx10cm ini di tempatkan serabut kelapa atau ranting rumput halus, sebagian di tebar di lantai sangkar.


tiff upload

Keuntungan sangkar gantung ini, yaitu tadi selain bisa menghemat tempat, kandang juga bisa di pindah-pindah sesuai keinginan selera tempat yang di inginkan sang pemilik. Yang penting terlindung dari hujan maupun gangguan binatang yang bisa mengganggunya.  Jadi, meskipun indukan sedang bertelur maupun mengeram, sangkar bisa sambil di turun dan naikkan untuk di bersihkan.

Calon indukan yang siap di masukan di penangkaran seperti ini di usahakan melalui perjodohan terlebih dahulu. Dengan kondisi siap birahi, yang lebih penting menurut Iwan keduanya berkharakter jinak, tidak liar.  Karena burung yang awalnya sudah jodoh dan keduanya jinak akan mudah beradptasi dengan lingkungan sekitarnya.  "Keduanya juga harus mau masuk bak mandi agar mudah terawatnya, karena mandinya kan menggunakan keramba mandi," jelas Iwan.

Setelah berjodoh keduanya akan saling mengangkut sarang dan menyusunnya. Seminggu kemudian akan bertelur. Bilamana telur di buang ada beberapa penyebab, bisa saja kondisi penataan sarang yang membuatnya tidak nyaman atau terganggu dengan melihat burung sejenis di sekitarnya. Pembuatan sarang ini disusun kedua indukan dengan model kasa di bagian bawah dan semakin atas dan di dalamnya semakin luas.

Tidak lama setelah mengangkut sarang, beberapa hari kemudian indukan betina akan betelur. Untuk melihat telur, pemilik tinggal membuka bagian atas box sarang setelah sebelumnya menutup lubang dengan lembaran triplek penutup lubang sarang terlebih dahulu.

Indukan betina akan betelur dua sampai tiga butir, setelah menetas anakan akan di asuh indukannya sampai sepuluh hari, berikutnya anakan di panen dan dimasukkan ke inkubator. Memasuki umur dua minggu anakan sudah bisa di pasangi ring kode pemilik.

Kebutuhan pakan indukan yang sedang bawa anakan di beri porsi cacing lebih banyak. Kecuali di saat mengeram indukan cukup diberi jangkrik dan kroto.  Sedangkan pakan di hari pertama masuk inkubator di beri jangkrik ukuran kecil yang kakinya sudah di bersihkan. Selain itu juga di beri adonan voer yang di aduk dengan kroto bersih.  Eksfood lainnya di berikan potongan cacing.  Anakan burung  di asuh sampai bisa makan sendiri biasanya menginjak di atas satu bulan. Pada umur tersebut, anakan sudah bisa di pasarkan.

Bilamana salah satu di antara indukan sedang mabung, misalnya jantan sedang mabung harus di pisahkan dan di istirahatkan. Bisa juga di kawinkan, tapi setelah betinanya bertelur indukan jantan segera di pisahkan untuk istirahat. Lain halnya bila indukan betinanya yang mabung biasanya tidak akan berproduksi/bertelur. (ade)

Thursday, June 28, 2012

Cara perawatan burung murai batu


 Cara perawatan burung murai batu
Tempat/sangkar: Murai batu bisa dipelihara dengan sangkar bulat maupun kotak. Untuk kotak ukuran 50 x 50 x 75 cm sedangkan untuk bulat dengan diameter 50 cm atau 60 cm tergantung dari jenis murai batu yang kita pelihata apakah berekor panjang atau pendek. Sementara tenggeran atau pangkringan bisa dibuat dengan kayu asam diameter 1,3 cm; bisa berbentuk palang bersusun mapun leter T.
Untuk perawatan harian, murai batu tidak perlu dikerodng dan hanya dikerodong malam hari agar tidak kedinginan.
- Pakan: Hal utama yang perlu diperhatikan dalam hal pakan adalah menu yang variatif sehingga kecukupan nutrisi, vitamin dan mineralnya. Pakan yang bagus, selain lengkap nutrisinya seperti protein, karbohidrat, juga lengkap vitaminnya seperti vitamin A, D3, E, B1, B2, B3 (Nicotimanide) B6, B12, C dan K3. Selain itu, perlu pula mengandung zat esensial seperti D-L Methionine, I-Lisin HCl, Folic Acid (sesungguhnya adalah salah satu bentuk dari Vitamin B) dan Ca-D.
Di samping vitamin, perlu juga kecukupan mineral. Mineral dibutuhkan dalam pembentukan darah dan tulang, keseimbangan cairan tubuh, fungsi syaraf yang sehat, fungsi sistem pembuluh darah jantung dan lain-lain. Seperti vitamin, mineral berfungsi sebagai ko-enzim, memungkinkan tubuh melakukan fungsinya seperti memproduksi tenaga, pertumbuhan dan penyembuhan. Yang termasuk mineral yang diperlukan burung anis kembang adalah Calcium, Phosphor, Iron, Manganase, Iodium, Cuprum, Zinccum, Magnesium, Sodium Chlorin dan Kalium.
Makanan yang sesuai untuk murai batu
  1. Voer (sebaiknya pilih yang berkadar protein sedang yaitu: 12%-18%). Belum tentu voer yang berharga mahal akan cocok dengan sistem metabolisme setiap burung murai batu. Voer harus selalu tersedia di dalam cepuknya. Selalu ganti dengan voer yang baru setiap dua hari sekali.
  2. EF (Extra Fooding), pakan tambahan yang sangat baik buat burung murai batu yaitu: jangkrik, orong-orong, kroto, cacing, ulat hongkong, ulat bambu, kelabang, belalang dan lainnya. Pemberian EF harus selalu disesuaikan dengan karakter pada masing-masing burung dan juga harus mengetahui dengan pasti dampak klausal dari pemberiannya EF tersebut

Murai Batu


Murai Batu
Murai batu (Copychus malabaricus) adalah anggota keluarga Turdidae. Keluarga Turdidae dikenal memiliki kemampuan berkicau yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi. Ketenaran Burung Muray batu bukan hanya sekedar dari suaranya yang merdu, namum juga gaya bertarungnya yang sangat aktraktif. Serta penampilan fisiknya yang indah. Ciri umum semua jenis murai batu adalah ekornya yang panjangnya melebihi ukuran badannya. Kepala, leher, dada bagian atas, dan paruhnya berwarna hitam berkilau. Badan bagian bawah berwarna cokelat kemerahan. Panjang badan untuk betina 22 cm, sedangkan untuk jantan mencapai 28 cm.
Mengenal Kerabat Dekat Murai Batu
Murai batu yang banyak dikenal selama ini merupakan jenis burung yang termasuk suku burung “cerdas”. Hampir semua jenis yang ada dalam suku tersebut, Turdidae, merupakan burung peniru dan penyanyi terbaik dalam komunitas burung kicauan.
Suku burung ini cukup banyak jenisnya dan tersebar luas di dunia. Jenis-jenis yang ada termasuk dalam banyak kelompok burung, seperti cingcoang, kucica, meninting, tiung, dan anis.
Berbagai jenis burung yang ada dalam suku Turdidae tersebut umumnya mempunyai pola penampilan warna yang beragam dan menarik. Ukuran tubuhnya rata-rata sedang, kepala bulat, kaki agak panjang, paruh runcing dan ramping, dan sayapnya lebar.
Secara umum kelompok burung ini suka memakan serangga atau invertebrata lainnya dan buah-buahan. Dalam mencari makanan, secara umum jenis burung ini suka mencari makan di permukaan tanah dengan terbang rendah.
Karena kehidupannya banyak dihabiskan di permukaan tanah, kelompok burung ini menjadi suka membuat sarang di semak atau pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Sarang umumnya berbentuk seperti cawan yang terbuat dari anyaman daun atau ranting kering yang diletakkan di cabang pohon.
Walaupun suku Turdidae memiliki banyak kelompok, tetapi jenis murai batu hanya ada satu. Namun, karena mempunyai penyebaran yang cukup luas, murai batu yang ada di mana-mana berkembang sesuai dengan kondisi lingkungannya. Perkembangan dalam lingkungan yang berbeda ini kemudian memunculkan variasi bentuk dan ukuran pada tubuhnya, seperti murai asal Sumatera diyakini mempunyai ukuran tubuh yang tidak terlalu besar dan berekor panjang. Berbeda dengan murai batu yang berkembang di Kalimantan. Ukuran tubuhnya agak sedikit lebih besar, ekornya pendek. Demikian pula dengan murai batu yang hidup di kepulauan lain juga mempunyai spesifikasi.
Karena penyebaran burung ini cukup luas, mulai dari India hingga ke Indonesia, maka orang mengenal jenis-jenisnya sesuai dengan daerah asalnya sehingga ada murai batu india, murai batu cina, murai batu filipina, murai batu malaysia, murai batu kalimantan, murai batu sumatera (medan atau lampung), murai batu jawa (larwo), dan murai batu bali yang sudah langka.
Dari beberapa jenis murai batu yang ada masing-masing mempunyai ciri sendiri-sendiri. Dari ciri-cirinya, murai batu yang banyak dipelihara oleh para penggemar burung di Indonesia adalah murai batu yang berasal dari Sumatera, Malaysia, dan Kalimantan. Murai batu dari ketiga tempat tersebut mempunyai penampilan yang cukup bagus saat berkicau. Kalau berkicau, mampu melagukan irama yang cukup merdu. Tidak jarang murai batu ini juga menyanyikan irama lagu burung lain. Adapun ciri murai batu dari ketiga tempat tersebut adalah sebagai berikut :
Murai batu malaysia
Salah satu ciri khas murai batu dari negeri jiran ini adalah badannya yang kecil dengan kombinasi ekor yang cukup panjang. Ekor murai batu malaysia ini bila dilihat secara seksama agak tipis dibanding dengan murai batu dari tempat lain. Karena tulang bulu ekornya lebih tipis dan panjang, dalam keadaan diam ekor murai batu asal Malaysia ini agak melengkung ke bawah (lentur).
Bila sedang berkicau, gerakan ekornya naik turun seperti cambuk. Dari segi suara, burung ini cukup merdu dan variatif irama lagunya. Burung ini cukup cerdas sehingga mudah dilatih dengan lagu burung lain yang merdu.
Murai batu sumatera
Murai batu sumatera yang dikenal selama ini ada ada dua, yaitu dari Medan dan Lampung. Pkdahal, secara umum di berbagai daerah di Sumatera masih bisa ditemui murai batu. Namun, karena pedagang dari berbagai daerah, khususnya Jawa, kalau membeli murai batu ke pengepul di Medan atau Lampung, menjadikan orang menganggap murai batu di Sumatera hanya ada di Medan dan Lampung.
Murai batu yang berasal dari Sumatera ini secara umum badannya sedikit lebih besar dari murai batu malaysia. Ekornya kira-kira sepanjang 22-24 cm. Karena tulang bulunya lebih tebal maka pada saat bernyanyi ekor yang digerakkan naik turun terlihat agak kaku.
Dari segi suara, secara umum penggemar burung lebih menyukai murai batu asal Medan dibanding dari Lampung. Hal itu dikarenakan penggemar burung mengganggap murai batu asal Medan ini lebih cerdas sehingga kalau diisi dengan suara burung lain lebih mudah meniru. Kemudian, dalam membawakan lagu antara variasi satu dengan variasi lagu lain bisa bersambungan dan ngeroll. Yang dari Lampung dalam membawakan lagu sering mengulang-ulang atau istilah dalam perburungan ngeban.
Murai batu Kalimantan
Murai batu dari Kalimantan ciri fisik utamanya adalah ukuran badannya sedang dengan variasi ekor yang jauh lebih pendek dibanding dengan murai batu asal Malaysia atau Sumatera. Panjang ekor rata-rata hanya 13 cm, semakin ke ujung ekornya semakin melebar.
Murai batu asal Kalimantan kurang begitu disukai karena dianggap kurang mempunyai banyak variasi lagu. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Asal mau mendidiknya atau melatih dengan lagu burung lain, murai batu asal Kalimantan tidak kalah dengan murai batu asal Sumatera atau Malaysia. Cuma, dari segi penampilan murai batu Kalimantan memang kalah menarik sebab ekornya yang pendek kalau lagi berkicau naik turunnya tidak seindah murai batu asal Malaysia atau Sumatera.
Namun demikian, bukan berarti burung ini jelek. Dalam hal lagu, murai batu kalimantan memang kalah dengan murai batu asal Sumatera. Namun, kalau perawatan sejak awal baik dan dipadu dengan pemberian master burung yang punya suara merdu, burung ini tidak kalah dengan murai batu asal Sumatera atau Malaysia.
(Postingan: Tim Editorial Kicaumania.org di kicaumania.org)